[Cerita Pendek] Cintaku Selamanya

selamanya

sumber

Ruangan bercat biru muda itu lengang. Bukan karena tak ada siapa-siapa di dalamnya, tapi karena empat orang lain yang ada di situ memilih diam, seolah enggan mengeluarkan suara. Terlalu dalam kesedihan yang mengambang di dalam kamar. Pandangan mereka semua tertuju pada satu titik; Ranjang. Di atas kasur berbalut seprai biru, sesosok tubuh kurus terbaring tak berdaya. Wajah yang tirus itu nampak menahan sakit. Matanya menerawang, sesekali menatap ke arah orang-orang yang berkumpul di sekitarnya. Ada Papa, Mama, Tante dan Eyang.

“Ma…”

Suara yang keluar tak lebih dari sebuah bisikan. Seorang perempuan separuh baya bergegas menghampiri. Ia raih tangan kiri anaknya yang bebas dari infus, menggenggamnya erat, seolah ingin memberi kekuatan.

“Iya, Sayang. Mama di sini. Apa yang kamu rasakan, Dian?

“Aku ingin ketemu Reza. Aku….”

Dian menghentikan kalimatnya, menggigit bibir. Entah menahan sakit atau perasaan. Sebutir air mata mengalir ke pipinya.

“Dian… Mama…enggak berani menentang Papa.”

Mama menggeleng sedih, mengalihkan pandangan dari mata Dian yang kian basah ke arah seorang lelaki yang tetap terlihat gagah meski uban mulai memenuhi kepalanya. Lelaki itu sedang menunduk.

“Ma..tolong aku. Aku sebentar lagi mati. Aku enggak mau mati penasaran.”

Susah payah Dian menyelesaikan kalimatnya. Mama kini mulai terisak, tak sanggup menjawab. Mendengar isak istrinya, lelaki tadi mendongak. Lalu beranjak ke arah ranjang. Melihat suaminya, Mama melepaskan genggaman tangannya, lalu berjalan ke arah suaminya, mengajak bicara.

“Pa, kita harus bicara. Ini demi Dian.”

Lelaki itu memberi isyarat ke arah pintu. Mama bergegas keluar.

“Pa, kita harus izinkan Dian ketemu Reza, Pa. Waktu Dian mungkin tidak lama lagi.”

Wajah lelaki itu mengeras. Rahangnya menegang, terbayang keteguhan hatinya.

“Tidak! Aku tak akan izinkan. Mama, apa kamu tidak bisa melihat seperti apa hubungan mereka? Hubungan mereka terlarang, Ma! Jangankan aku, Tuhan pun akan marah!”

“Tapi dia anak kita, Pa! Kita tidak bisa biarkan dia menderita seperti itu! Dian sekarat!

Mama berteriak histeris lalu kembali bibirnya gemetar bicara.

“Semua salah kita, Pa. Kita yang tidak perhatian pada dia. Kita selalu saja sibuk, padahal dia anak kita satu-satunya. Kalau Dian jadi salah pergaulan seperti itu, itu juga salah kita.”

Papa terdiam. Merenungi kalimat-kalimat yang dimuntahkan istrinya. Meski sebagian hatinya menentang, sebagian lagi membenarkan. Tapi tetap saja dia tidak bisa menerima hubungan anaknya dengan lelaki itu.

“Benar, Ma. Kita salah. Kita salah sudah mengabaikan Dian sejak dulu. Tidak memberinya perhatian. Tapi kita tidak bisa biarkan dia lakukan kesalahan lagi, kan Ma? Aku yakin yang kita lakukan sudah tepat, memisahkan dia dari lelaki itu!”

“Dian sekarat, Pa. Sekarat. Aku tak bisa melihat anakku sekarat lalu mati di hadapanku.”

Suara Mama sekarang hanya berupa bisikan. Sekuat tenaga ia menahan agar air mata yang membayang di pelupuk tak jatuh ke pipi. Papa mendesah. Tepat ketika ia akan mulai bicara lagi, terdengar jeritan dari dalam kamar. Sedetik Papa dan Mama saling berpandangan, lalu bergegas menghambur ke dalam kamar.

******

Pada waktu yang bersamaan, di sebuah rumah sederhana, kota yang sama.

Reza menghela napas panjang. Sejak tadi ia tidak dapat berkonsentrasi pada pekerjaannya. Padahal desain gedung ini harus selesai minggu depan untuk ditampilkan di hadapan klien. Ini proyek besar, jelas ia harus bisa memberikan desain yang menarik, punya ciri khas seperti yang disyaratkan klien.

“Ah, sepertinya aku harus istirahat dulu.”

Reza beranjak keluar dari kamar kerjanya. Di ruangan sebelah, ia lihat bocah manisnya sedang bermain. Reza tersenyum pada anak lelaki itu, lalu memberi isyarat pada pengasuhnya untuk tetap menemani anaknya bermain. Setelah itu ia beranjak ke kamar tidur.

Reza merebahkan tubuhnya di atas ranjang besar, lalu menghela napas. Pikiran-pikiran berkecamuk di kepalanya. Masalah pekerjaan, urusan perceraian dengan istrinya yang belum juga selesai, perebutan hak asuh. Semua terasa begitu membebani. Ia teringat pertengkaran terakhir dengan istrinya – sebentar lagi jadi mantan- sekitar 3 bulan lalu.

“Kamu mengkhianatiku, Mas! Aku tidak tahan lagi. Aku tidak tahan lagi!”

“Lily, dengarkan aku. Aku minta maaf. Seharusnya aku jujur sama kamu tentang keadaanku ini sejak dulu. Tapi sejak perselingkuhan kamu dengan Ronal dulu….”

Plaakkkk…

Lily menampar pipi Reza sangat keras. Bekas merah tercetak jelas di pipi putih Reza. Mata Lily memerah, bibirnya gemetar. Ia menuding.

“Jangan ungkit-ungkit itu lagi, Mas. Kau bilang kau sudah memafkan aku. Jangan jadikan itu alasan untuk kelakuan menjijikkanmu ini. Aku juga sudah memaafkan perbuatanmu dengan dia sebelum kita menikah dulu!”

“Iya, Lily aku salah. Aku minta maaf. Aku masih mencintaimu.”

Wajah Lily tampak melunak. Ia mendekati Reza, sangat dekat, lalu berkata lirih.

“Kau bisa berjanji padaku, kau akan meninggalkan Dian?”

Reza terdiam sejenak. Hanya sejenak, tapi terlambat. Meski sekilas, Lily bisa menangkap keraguan dari sikap Reza. Sebelum Reza sempat menjawab, ia berteriak.

“Aku tahuuuu! Kau tak akan pernah bisa berubah, mas. Tidak akan! Aku tak tahan lagi! Aku minta cerai!”

Reza terkesiap. Sejenak dia diam, seolah tak tahu hendak berbuat apa. Sementara Lily sudah bergegas menyambar tasnya dan setengah berlari keluar dari kamar.

Tangisan anaknya menyadarkan Reza dari lamunan. Dari dalam kamar ia bisa mendengar pengasuh sedang berusaha membujuk anaknya agar tidak menangis lagi. Cara pengasuh itu berbicara mirip sekali dengan Dian. Dian…ah Dian.

******

“Dian? Kapan kamu datang? Kenapa si mbak tidak beritahu aku lebih dulu?”

Reza terkesiap, tak menyangka Dian ada di kamarnya. Ia bahkan tidak menyadari sejak kapan Dian datang. Pada saat ia tertidur tadi kah? Ia pandangi wajah yang dicintainya itu. Lembut, seperti bayi. Lalu mata yang menyorot sayu, mata yang selalu menatapnya penuh cinta.

Dian hanya tersenyum. Manis. Tak ada satu kalimat pun yang keluar dari bibir tipis itu. Matanya menyiratkan kerinduan yang teramat dalam. Reza bangkit dari ranjang dan menghampiri Dian. Ia peluk tubuh ramping itu, menumpahkan segala beban. Berbagi penderitaan, juga kesedihan. Seperti yang dulu sering mereka lakukan. Seperti waktu itu. Pada saat…

“Cause I love you, whether it’s wrong or right, And though I can’t be with you tonight,
You know my heart is by your side”

Reza tersentak. Penggalan lalu kesukaan milik Daniel Bedingfield mengalun sejak tadi dari ponselnya. Ah, cuma mimpi siang hari rupanya. Sejenak ia mengucek matanya lalu membaca pesan yang terkirim. Singkat saja tapi cukup untuk mengguncang dunianya.

“Dian meninggal dunia. Segera kemari.”

********

Di kediaman Dian, kehebohan tampaknya mulai mereda. Meski wajah-wajah anggota keluarga masih dipenuhi bekas air mata, tapi raut mereka menyiratkan kelegaan. Dokter pribadi yang mereka panggil sudah menjelaskan kejadian yang dialami Dian. Dian mengalami mati suri. Setelah tiga puluh menit tanpa napas, Dian kembali lagi ke dunia. Seluruh keluarga meski masih sangat terkejut, tentu amat gembira dengan kenyataan ini. Orang yang mereka sayangi masih diberi umur panjang.

Mama tampak duduk di samping Dian, membelai-belai rambut anak kesayangannya. Raut wajahnya terlihat sangat lega. Papa ada di sudut lain sedang berbicara dengan dokter. Tiba-tiba Mama teringat sesuatu. Reza. Tentu ia akan sangat gembira mendengar kabar ini. Mama lah yang mengirim pesan tentang kematian Dian. Tentu dia sedang dalam perjalanan ke mari. Mama mengambil ponsel dari tasnya, hendak menghubungi Reza. Sebelum sempat ia menekan tombol, ponselnya berdering. Sebuah nomor tak dikenal.

“Sebentar ya Sayang, Mama terima telpon ini dulu.”

Dian hanya tersenyum lemah, lalu kembali memejamkan mata.

Di luar kamar, Mama tegak mematung. Seolah tak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. Benaknya mengulangi lagi apa yang diucapkan penelpon.

“Selamat siang, Ibu. Dari Kantor Polisi. Saya hendak memberitahukan bahwa telah terjadi kecelakaan yang menewaskan seseorang bernama Reza Armaya. Nomor ibu kami dapatkan dari daftar panggilan dan pesan di ponsel korban. Saat ini jenazah disemayamkan di Rumah Sakit Bunda. Terimakasih.”

Sungguh Mama masih belum bisa menerima berita ini. Bahkan sebenarnya dia masih belum mengerti semua kejadian ini. Betapa dekatnya antara kematian dan kehidupan. Baru satu jam lalu dia harus menyaksikan sebuah kematian, lalu kembalinya sebuah kehidupan, dan kini sebuah kematian lagi? Entah bagaimana ia mesti menyampaikan kabar ini pada Dian. Mama menghela napas. Berat.

*******

Dian melangkahkan kaki perlahan. Pekuburan ini sepi, cuaca sedikit muram. Sejak tadi angin sore berhembus agak kencang. Ia merapatkan jaketnya, lalu mempercepat langkah menuju sebuah makam yang masih merah. Makam kekasihnya, Reza Armaya. Gundukan merah itu masih menyisakan taburan bunga dan sebuah karangan bunga ada di bagian atas nisan. Dian menahan sesak di dadanya yang ia rasakan sejak tadi. Kehilangan seperti ini sungguh terasa berat. Ia menengadah, hanya agar air mata tidak tumpah. Lalu mengangkat tangan, berdoa.

Dian tidak menyadari sepasang mata mengawasinya sejak tadi. Mata milik Lily yang berkilat penuh benci. Bibir Lily mendesis pelan.

“Kau lah penyebab semua penderitaan ini. Rahardian Prawira, aku membencimu!”

–tamat–

Catatan

Mengenai mati suri ini ada beberapa pendapat mengenai seperti apa ciri-ciri orang yang mengalami mati suri, seperti apa saja yang dia lihat pada saat mati suri.Β  Mungkin tidak sama dengan yang ada di cerita ini, tapi saya mengambil kemungkinan bahwa seseorang yang ‘akan meninggal’ memilih untuk menemui orang yang disayanginya.

Salah satu referensi tentang mati suri bisa dibaca di : http://www.faktailmiah.com/2010/09/15/mati-suri.html

Iklan

13 thoughts on “[Cerita Pendek] Cintaku Selamanya

  1. dickoandika berkata:

    Aku udah pernah baca, tapi belon komen. Aku suka ceritanya. Tapi mgkin krn udah biasa cerpen2 abg jadinya ini kayak terlalu panjang. Hehehe.

    Bang, komentarnya jgn terlalu diambil hati ya kalo yg nyinyir. Namanya juga komen :D. Kalo mau diikutin maunya pembaca memang ribet yak. Kayaknya pembaca yg ribet cuman saya. Hahaha

    • riga berkata:

      seringnya sih nulis flashfiction, ikuti tantangan. tapi sesekali aku masih nulis cerpen kok, Dika. πŸ™‚

      Komentar nyinyir? Nggak apa-apa. Aku justru suka kalau ada komentar yang “menguliti’ kelemahan2 dalam ceritaku. Artinya beneran dibaca dan ‘diresapi’. πŸ˜‰

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s