[Cerita Pendek] Karena Ibu Melihat dengan Cinta

ibu dan anaknya

sumber

Ruang bersalin Rumah Sakit Harapan Ibu kini terasa sedikit lega. Suara-suara riuh dokter dan perawat yang tadi memenuhi udara, kini sudah tak ada lagi. Teriakan kesakitan perempuan yang sedang melahirkan pun sudah reda. Seorang perawat setengah baya dengan telaten membersihkan si bayi yang menjerit-jerit. Mungkin kedinginan, mungkin juga sebagai tanda protes sebab kenyamanannya bergelung di rahim ibu terenggutkan.

Seorang perawat lainnya sedang membersihkan tubuh si ibu. Perempuan itu masih terlihat lemah. Rambutnya sedikit awut-autan. Raut kesakitan masih membayang di wajahnya. Matanya menerawang jauh. Entah apa yang dipikirkannya.

“Selamat ya, mbak. Bayinya lahir selamat, tak kurang sesuatu pun.”

“Makasih, Sus.”

“Sudah siapkan nama buat si kecil?”

“Belum.”

Lalu ada jeda yang panjang. Kedua perempuan itu memilih diam, sibuk dengan pikiran masing-masing. Suster berjilbab itu mengenang kembali saat-saat kedatangan perempuan itu ke rumah sakit. Perempuan yang tertatih menuju ruang bersalin, memegangi perutnya yang membuncit. Tak ada yang menemaninya kecuali seorang lelaki tua. Tetangga depan rumah, katanya.

“Kemana suaminya, Pak?” tanya suster.

Lelaki itu hanya mengedikkan bahu.

“Keluarganya?”

“Kabarnya dia dan suaminya -saya pun tak tahu apa lelaki itu suaminya- diusir keluarganya. Baru 3 bulan mereka tinggal di kontrakan saya. Sudah 2 minggu saya ga ngeliat suaminya..eh..apa pacarnya ya? Pokoknya gitu deh, sus. Eh, sus, ntar biayanya jangan bebankan ke saya ya, saya ga punya duit.”

Lelaki itu bergegas pergi. Suster menghela napas, lalu beranjak ke ruang bersalin.

***

“Seorang ibu. Yah, aku sudah menjadi seorang ibu. Tanpa suami.” Perempuan itu bergumul dengan pikirannya sendiri. Tak ada suara yang ia keluarkan ketika suster menggeser tubuhnya dan memakaikan baju bersih. Dia seolah tak peduli. Larut dalam lamunan panjangnya. Saat-saat bahagia itu. Saat-saat yang terasa sudah terlalu lama berlalu.

“Sayang, kita kawin lari saja! Aku tak ingin ada yang memisahkan kita. Aku cinta kamu. ”

Ah, andai saat itu pikiranku sedikit lebih waras, pasti kalimat bodoh itu tak akan tercetus dari mulut besarku. Cinta. Yah, memang cinta kadang membutakan. Jika sedikit saja aku mau berpikir jernih, pasti aku bisa melihat kebenaran yang disampaikan keluargaku tentang lelaki itu.

“Dia hanya akan bikin kamu sengsara, Dina!” Ibuku berteriak marah. “Apa sih yang kamu lihat dari lelaki pengangguran, tukang mabuk dan sikapnya kasar itu?”

“Dia akan berubah, Ma! Dia udah janji sama Dina.” Aku ngotot membantah. Ini pertengkaran kami yang kesekian kalinya. Rasanya aku sungguh benci ibuku saat itu. Tega-teganya dia menghalangi kebahagiaanku.

“Andai ayahmu masih ada, dia pasti akan langsung menghajar lelaki brengsek itu.” Ibu melangkah gontai ke kamarnya. “Pikirkan lagi, Dina. Kami semua sayang kamu,” kata ibu sebelum menutup pintu.

Tapi cinta memang membutakan. Malam itu aku minggat.

***

Kami berpindah-pindah tempat tinggal. Sampai akhirnya menetap di ibukota propinsi. Mengaku sebagai suami istri, dan tak ada yang merasa perlu mengecek surat nikah kami. Budaya permisif, dan kami pun merasa aman-aman saja. Bahagia menjalani hidup berdua. Lalu aku hamil. Kupikir kabar ini akan membahagiakan kami berdua. Ternyata tidak. Suamiku….ah..rasanya aneh menyebutnya suami. Kami belum menikah resmi, secara agama maupun negara. Pacarku ternyata tidak senang. “Kenapa hamil? Aku belum dapat kerja. Utang kita ke tetangga banyak, ini malah hamil. Merepotkan saja!” Begitu bentaknya. Aku bingung hendak menjawab. Salahku kah?

Lalu dia menjadi tidak peduli padaku. Sering pulang malam, marah-marah, mabuk. Bulan demi bulan berlalu. Aku berjuang menahan perasaan. Berusaha mencukupi kebutuhan sehari-hari dengan menjadi buruh cuci. Tapi dia masih juga belum berubah. Bahkan semakin kasar. Puncaknya saat kami bertengkar hebat dan dia pergi. Tak kembali lagi.

***

“Bayinya siap buat disusui, mbak.” Suara suster membuyarkan lamunanku. Dan lihatlah siapa yang ada di gendongan perempuan itu. Seorang bayi paling cantik yang pernah kulihat. Bibir mungilnya merekah. Wajahnya yang putih, membuatku langsung jatuh cinta. Ketika makhluk mungil itu ada dalam pelukanku, sensasi yang begitu menyenangkan menyergapku. Menyentuh kulit lembutnya, mencium wangi tubuhnya. Ah, tak kusangka, bayi mungil ini mampu menerbitkan cinta yang teramat dahsyat di diriku. Dan lihatlah, bibir kecilnya membentuk gerakan yang teramat lucu bagiku. Begitu puting susu kudekatkan ke bibirnya, bagai naluri yang teramat purba, ia langsung mengisapnya.

“Ah, anakku. Anak ibu,” kataku berulang-ulang. Suster menatapku dengan senyum bijak.

“Suster?”

“Ya, mbak?”

“Cinta. Anak ini aku namai Cinta.”

Aku dan suster tersenyum.

Iklan

13 thoughts on “[Cerita Pendek] Karena Ibu Melihat dengan Cinta

  1. Natta berkata:

    Siapa bilang bikin cerita fiksi itu gampang?
    Buat tta yang hampir seluruh isi blog nya berisi racauan-racauan hina, making such a story is such an impossible mission :p

    Anyway, Cinta is a lovely name 🙂

    • riga berkata:

      kadang justru kebalik, lho. Buat yang ‘terbiasa’ menulis fiksi,meracau di blog itu adalah sesuatu yang tidak mudah juga. 😀

  2. M Nazaruddin berkata:

    Ceritanya masih terlalu biasa, dan tak ada sesuatu yg berbeda. Kalaupun memang ingin memberikan kesan menggugah melalui kisah hidup si ibu, namun masih belum ada terasa kalimat-kalimat yg merupakan curahan hati si ibu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s